13 November 2008

Sepakbola : Antara Uang dan Profesionalisme

Cyber News : Indonesia adalah surga bagi penikmat sepakbola. Warga Indonesia bisa menikmati aneka siaran langsung sepakbola dari negeri-negeri kiblat si kulit bundar itu. Gratis pula. Karena gratis, maka siaran televisi lokal yang dipancarkan melalui satelit dan bisa ditangkap dengan parabola pun dibatasi. Ini tentu mencegah peluberan siaran hingga ke negeri tetangga.

Dari sepakbola, semestinya kita bisa belajar banyak hal. Bukan sekedar menonton atau berlagak bak hooligans saja, tapi juga belajar bagaimana sebuah permainan dikelola secara profesional hingga menjadi industri yang menghasilkan dan melibatkan uang dalam jumlah mencengangkan.

Seorang pemain sepakbola bisa memiliki bayaran berkali-kali lipat dari gaji seorang direktur. Pemain bertalenta macam Christiano Ronaldo bisa membuat klub kaya berebut memilikinya. Harganya pun melambung sesuai teori ekonomi, karena banyak permintaan sementara persediaan terbatas bahkan hanya satu-satunya.

Kepemilikan klub pun meluas menjadi komoditi mahal. Ia tak lagi terkait fanatisme dan nasionalisme sempit. Siapa saja, asal punya uang, bisa membeli klub sepakbola. Bahkan seorang birokrat Thailand yang kemudian tersangka koruptor seperti Thaksin Sinawatra sempat memiliki klub Inggris Manchester City. Klub ini pun kemudian beralih kepemilikan ke tangan Sulaiman Al-Fahim, seorang muslim trilyuner dari Uni Emirat Arab.

Pengelolaan sebuah klub sepakbola professional bukanlah seperti mengelola tim sepakbola kampong atau sekolahan. Di dalamnya diperlukan manajemen yang rapi, termasuk pula dalam segi pengkaderan. Inilah yang tidak –atau kalau mau optimis, belum- tampak di Indonesia. Para birokrat PSSI tampak merasa paling ‘ngerti sendiri’. Mereka tidak mau mendengarkan pihak lain, bahkan pihak yang nota bene adalah atasannya: FIFA.

Negeri-negeri hebat dalam sepakbola mendapatkan banyak berkah dari olahraga ini. Tidak cuma dari publikasi nama negeri di mancanegara yang bisa berdampak positif pada pariwisata, tapi juga tentunya dari pendapatan pemainnya yang luar biasa itu sebagai pajak. Bahkan, secara langsung sepakbola telah membuat rakyat terbius dan melupakan kesulitan hidup sehari-hari. Brazil dan Argentina misalnya, adalah dua negeri yang secara ekonomi dan pemerintahan tidaklah sebaik negeri kita, tetapi sepakbola telah mampu membuat rakyatnya melupakan keburukan situasi negerinya.


Profesionalisme pun terlihat tak hanya dari para pemain, tapi juga semua yang terlibat di dalamnya. Bahkan untuk soal yang dianggap ‘sederhana’ tapi tak pernah beres di Indonesia, misalnya soal tiket. Ini jelas sumber pemasukan reguler bagi klub yang di Inggris, Spanyol, atau Italia jelas dikelola dengan baik. Di Indonesia, berkah malah bertaburan ke pemain asing yang digaji dengan mahal. Lihat saja daftar pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia, mereka adalah pemain-pemain asing yang di negara asalnya cuma pemain kelas tiga atau empat. Tak heran permainan kita pun tak meningkat karena uang terbuang percuma untuk memberi makan orang asing, bukannya meningkatkan kemampuan pemain sendiri atau mengkader bibit unggul.

Budaya ‘sirik’ pun masih kerap terjadi. Seorang pemain, pelatih, atau bahkan komentator bisa tak terpakai lagi karena ada yang tak suka. Saya teringat beberapa tahun lalu ada Eddy Sofyan, komentator sepakbola di televisi yang menurut saya jauh lebih pandai daripada semua komentator yang ada saat ini. Dan jadi komentator pun perlu belajar lho, tidak mudah menghafal nama pemain berikut keahlian dan riwayatnya, masih ditambah pengertian soal taktik dan strategi tiap tim, serta detail lainnya. Tapi saya dengar ia ‘disingkirkan’ dari layar kaca karena ‘sirik’ tadi. Siapa yang ‘sirik’? Yang jelas bukan Nirmala (teringat kartun di majalah Bobo).

Padahal di negeri seberang sana, kita tahu ada Jose Mourinho yang asalnya seorang komentator dan kemudian jadi pelatih ternama. Jadi, meski uang mengalir pula bagi sepakbola negeri kita dari sponsor yang pasti tertarik pada banyaknya massa penonton yang berhimpun, tapi untuk urusan profesionalisme rasanya masih jauh. Entah kapan kita bisa belajar dari tayangan spektakuler tiap pekan itu.

By : Bhayu M.H.

3 komentar:

Anonim,  14 November, 2008 15:01  

pertama komen..
ada uang ada profesioal...

Anonim,  18 November, 2008 13:31  

Masa keemasan pemain bola yang sangat singkat, hanya 10 - 15 tahun membuat pemain memang harus menikmati kejayaan dan kekayaan semaksimal mungkin. Dan itu sah2 saja ya. Perihal pemain asing digaji lebih tinggi dari pemain lokal itu juga oke saja dan wajar saja. Karena dia harus jauh meninggalkan kampung halamannya dan itu butuh pengorbanan yang tidak sedikit.

MOHAMMAD ISNAIN 25 Juni, 2009 09:45  

dimana mau dapat contoh AD/ART club sepakbola///please dong

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, memberi saran atau masukkan tentang posting ini.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP