24 September 2008

Konflik Multikultur di Balik Gemerlap Sepakbola

Sepakbola, sebuah olah raga yang berasal dari daratan Inggris, telah menempatkan dirinya sebagai olah raga paling populer di muka bumi ini. Popularitas olahraga ini nyaris berlaku di setiap negara, dengan pengecualian beberapa negara, seperti di Amerika Serikat di mana American football dan bola basket lebih populer dibandingkan dengan sepakbola, di India dan Pakistan di mana kriket menjadi olahraga yang paling banyak digandrungi oleh penduduknya. Namun, bukan berarti sepakbola di negara-negara tersebut kehilangan rohnya untuk menjadi olahraga nomor satu. Buktinya di tahun 1994, Amerika Serikat sukses menyelenggarakan Piala Dunia (World Cup) dan di luar dugaan penyelenggaraan Piala Dunia di Amerika Serikat mencatat rekor sebagai pertandingan Piala Dunia yang paling banyak ditonton oleh suporter yang datang membanjiri stadion yang menjadi venue dari babak penyisihan sampai final yang mengantarkan Brasil sebagai juara dunia untuk keempat kali.

Di tahun 2006, nyaris seluruh mata penggemar olahraga tertuju pada Piala Dunia yang diselenggarakan di Jerman. Tiket pertandingan terjual habis, bahkan jauh hari sebelum penyelenggaraan pertandingan. Berbagai stasiun televisi di seluruh dunia berusaha memperebutkan hak siar pertandingan Piala Dunia yang harganya tidak terbilang murah. Begitu pula dengan berbagai industri yang berusaha melakukan pemasaran produknya dengan menjadi sponsor Piala Dunia. Media massa, baik cetak, elektronik maupun cyber mem-blow up even ini dengan berbagai sudut pandang. Media olahraga menambah jumlah halamannya demi pemuatan pemberitaan Piala Dunia yang lebih komprehensif bagi pembacanya, media ekonomi memuat kajian ekonomi penyelenggaraan Piala Dunia dan koran harian umum menambah suplemen khusus Piala Dunia. Iklan-iklan saling berlomba-lomba untuk menjadi lebih bernuansa sepakbola walaupun produk yang diiklankan tidak menjadi sponsor resmi Piala Dunia.

Nonton bareng Piala Dunia marak di berbagai tempat, mulai dari nonton bareng yang resmi digelar oleh sponsor resmi Piala Dunia di kafe sampai lapangan luas maupun nonton bareng “tidak resmi” yang berlangsung di sudut-sudut gang yang sempit. Demam Piala Dunia tak pelak lagi menjalar secara cepat dan massif. Layaknya menjadi aneh jika tidak ikut demam Piala Dunia. Bagaimanapun juga sepakbola bukan lagi semata-mata olahraga, namun telah bergeser menjadi sebuah industri budaya ( Joseph dan LaRose, 1997 : 46).

Sepakbola dan Isu Multikultur


Menariknya, isu-isu politik dan budaya kembali menghangat dalam penyelenggaraan Piala Dunia kali ini. Isu politik yang terutama adalah wacana pencekalan tim nasional (timnas) Iran yang banyak disuarakan oleh Amerika Serikat dan para sekutunya karena keengganan Iran untuk menerima inspeksi dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dalam industri uraniumnya yang dituduh oleh Amerika sebagai pengayaan uranium sebagai sarana pembunuh missal. Isu politik ini kemudian merembet ke isu kultural, tatkala para pendukung Neo Nazi mengungkapkan rencana mereka untuk mendukung timnas Iran dalam setiap pertandingan yang mereka lakoni, terutama setelah pernyataan Presiden Iran, Ahmajinejad bahwa holocaust yang menimpa kaum Yahudi semasa Perang Dunia II oleh Adolf Hitler adalah omong kosong belaka. Statemen yang tentu saja mengundang simpati para pendukung Neo Nazi yang memendam kebencian dan prasangka terhadap kaum Yahudi.

Ancaman kaum Neo Nazi ini mengingatkan kita pada Liga Italia (Seri A) yang di tahun 2005/2006 semakin sering diwarnai rasisme. Pemain-pemain berkulit hitam seringkali menerima teror suporter yang meneriakan suara-suara monyet. Bahkan, Zorro, pemain klub Mesina yang kebetulan berkulit hitam pernah mogok bertanding saat menerima teror rasis dari pendukung Inter Milan saat kedua klub bersua di San Siro, Milan dalam putaran Seri A tahun 2005/2006. Spanduk-spanduk dengan kalimat rasis berdampingan dengan spanduk bernada fasis yang seringkali dihiasai gambar Benito Musolini, pemimpin fasis Italia di tahun 1930-an sampai akhir Perang Dunia kedua, menjadi alat teror bagi pemain non kulit putih kerap dijumpai di tribun suporter . Fenomena simbol-simbol kultural yang meresahkan otoritas sepakbola Italia (FIGC) ini kemudian memaksa FIGC mewacanakan pelarangan suporter membawa spanduk ke dalam stadion.

Di La Liga Spanyol dan Premier League Inggris fenomena serupa juga marak terjadi dengan beberapa fenomena yang bersifat khusus. Di Spanyol misalnya, konflik orang-orang Catalan dengan pemerintah pusat Spanyol terjadi dalam pertarungan simbol budaya antara Barcelona dan Real Madrid. Begitu pula saat Real Madrid bersua dengan Barcelona. Pemain kedua kesebelasan papan atas di tanah Spanyol ini nyaris tidak pernah lepas dari peseteruan dan drama yang menghebohkan di lapangan dan juga di media, bukan hanya media massa di Spanyol namun juga di seluruh dunia. Salah satu klimaksnya adalah tatkala Luis Figo, yang selama bertahun-tahun menjadi pahlawan Catalan, memutuskan hijrah ke Real Madrid, suporter Barcelona segera mengutuknya dengan mentasbihkan Figo sebagai pengkianat. Ludah suporter di Nu Camp acapkali menghampiri Figo yang tengah bersiap melakukan tendangan pojok ke arah gawang El Barca ketika ia yang telah berbaju Los Galaticos bermain di atas rumput Nu Camp. Puncaknya adalah ketika kepala babi dilemparkan ke arah Figo yang bersiap menendang bola dari pojok lapangan. Klimaks yang lain adalah saat Barcelona merayakan kemenangannya sebagai juara La Liga tahun 2005, Samuel Eto’o striker Barcelona yang dulunya disingkirkan dari skuad Los Galaticos, mengumpat mantan klub yang telah menyingkirkannya. Umpatan yang kemudian mengharuskannya meminta maaf dan berbuah denda dari Federasi Sepakbola Spanyol.

Di Inggris, beberapa pemain asli Inggris kerap menjadi santapan empuk media karena sering berurusan dengan polisi melalui tindakan rasial yang mereka lakukan, bahkan di luar pertandingan, seperti yang dilakukan oleh Lee Bowyer pemain kontroversial asal Newcastle United yang melakukan penyerangan terhadap pemuda imigran Asia di tahun 2005.

Konflik multikultur yang diawali oleh perang simbol ini juga merambah ke Liga Indonesia (Ligina). Setiap pertandingan antara Persija Jakarta melawan Persebaya Surabaya bisa dipastikan atmosfer pertandingan menjadi jauh lebih panas jika dibandingkan dengan pertandingan-pertandingan lain yang dimainkan keduanya melawan klub-klub lain. Panasnya suhu di tengah lapangan hijau tidak jarang memancing pemain kedua klub untuk saling jegal kaki dan dorong-mendorong. Lebih ganas lagi adalah perseteruan antara pendukung kedua kesebelasan yang dikenal militan dan fanatik. Jakmania dan Bonek sempat beradu fisik bahkan sebelum pertandingan antara kedua klub yang mereka dukung dalam pertandingan delapan besar Liga Indonesia tahun 2005 di Stadion Gelora Bung Karno. Dengan alasan untuk menghindari benturan kedua suporter yang akan menyebabkan bonek disinyalir akan di sweeping oleh Jakmania bahkan telah menyebabkan manajemen Persebaya mundur dari pertandingan penyisihan delapan besar, dan dampaknya Persebaya harus turun ke kasta divisi satu sebagai bentuk hukuman PSSI terhadap tindakan Persebaya.

Satu musim sebelumnya, manajemen Persebaya menolak kedatangan Jakmania di Stadion Gelora Sepuluh November dalam pertandingan paling menentukan antakedua kesebelasan. Di bawah tekanan bonek, Persija yang datang ke Gelora Sepuluh November, Tambaksari Surabaya tanpa dukungan Jakmania lengkap dengan simbol-simbol Betawi yang dibawa oleh Jakmania dalam berbagai spanduk yang mereka rentangkan saat pertandingan, harus bertekuk lutut dan menyaksikan pemain dan suporter Persebaya bersorak menjadi klub pertama yang mampu dua kali merebut Piala Presiden.

Konflik antara Viking dengan The Jak juga tidak bisa dilupakan begitu saja. Jarak yang dekat antar kedua kota bukannya membuat pendukung kedua kesebelasan rukun, namun justru malah semakin membuat konflik diantara keduanya menjadi membara. Film dokumenter berjudul The Jak yang diproduksi Bogalakon Pictures bahkan secara jelas menampilkan provokasi suporter dari ibukota terhadap Viking. Adegan teatrikal sekelompok pendukung Persija yang menyiksa ”seorang berbaju Persib” sesaat sebelum pertandingan Persija menjadi salah satu bentuk provokasi yang nyata, begitu juga adegan penyerangan yang dilakukan The Jak terhadap Viking di tribun stadion dan belum lagi kata-kata yang secara agresif menyerang Viking.Tidak aneh jika kemudian suporter sepakbola selalu diidentikan dengan segerombolan anak muda yang suka berbuat onar, pengangguran dan tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi (Suyatna dkk, 2007:46).

Rivalitas Pusat Versus Daerah
Kedua rivalitas klub sepakbola di Indonesia dan Spanyol ini memiliki kesamaan. Real Madrid, sebagaimana juga Persija, adalah representasi dari pusat (core) yang selalu mengganggap dirinya harus menjadi lebih dengan yang lain dan jangan sampai terkejar oleh daerah, atau dengan kata lain pusat acapkali dihinggapi sindrom superioritas. Sedangkan Barcelona, sebagaimana pula Persebaya, merupakan bentuk representasi dari daerah yang lebih maju dibanding daerah-daerah yang lain, namun bagaimanapun juga tetap nomor dua setelah pusat atau dengan kata lain tetap menjadi “pinggiran” (periphery). Daerah dianggap sebagai subkultur yang berbeda dengan budaya yang berasal dari pusat (Gamble dan Gamble, 2005 : 37).

Pusat memandang daerah nomor dua, dan daerah pun tidak akan terima jika selalu dianggap sebagai nomor dua. Tak ayal, motivasi daerah seringkali sangat membara untuk mengejar pusat. Bara yang seringkali membakar rumput stadion dan tribun penonton melalui permainan yang keras dan saling umpat antarsuporter. Secara politik maupun ekonomi, daerah boleh nomor dua, namun tidak dalam ranah sepak bola, demikian kata orang daerah.

Dengan memakai semiotika Roland Barthes sebagai sebuah kaca mata analisis, rivalitas ketat antarkesebelasan yang merepresentasikan resistensi daerah terhadap dominasi dan hegemoni pusat sebagaimana terlihat dalam rivalitas Real Madrid dengan Barcelona dan Persija dengan Persebaya, dapat dilihat sebagai sebuah petanda (signifier) adanya sebuah resistensi kultural, sebuah perlawanan yang dilakukan daerah terhadap melalui simbol-simbol kultural yang berbentuk sepakbola dengan segala atributnya. Resistensi yang menunjukan adalah strategi pemisahan (separation strategy) daerah dalam relasi budayanya dengan pusat (Gamble dan Gamble, 2005 : 37)

Resistensi kultural daerah melawan hegemoni pusat melalui sepakbola tidak hanya terjadi dalam sebuah tatanan negara-bangsa (nation-state), namun juga terjadi dalam ruang lingkup yang lebih kecil yaitu lokalitas. Perseteruan abadi antara Persebaya dan Arema yang sering menyebabkan Bonek dan Aremania susah untuk berjabat tangan merupakan contoh konkret rivalitas daerah dengan pusat dalam ruang lingkup sebuah propinsi. Surabaya yang dalam tataran nasional duduk sebagai kota nomor dua setelah Jakarta, berada di urutan yang sama dengan Jakarta dalam tingkatan propinsi Jawa Timur. Setelah Surabaya, barulah Malang yang berhak menyandang nomor dua. Ketika Aji Santoso memutuskan hijrah dari Arema ke Persebaya di pertengahan tahun 1990-an, Aremania segera memahatkan namanya sebagai pengkianat. Sebuah kutukan yang sama yang diterima Figo ketika murtad dari tanah Catalan.

Bentrokan antara pendukung PSIS Semarang dan Persijap Jepara dalam derby Jawa Tengah yang panas membara di awal bulan Maret 2006 adalah petanda lain yang menunjukan rivalitas yang kuat antara Semarang sebagai pusat Jawa Tengah dan Jepara sebagai daerah yang tidak mau selalu dianggap sebagai inferior. Bentrokan berdarah yang membawa banyak korban berjatuhan karena bentrokan antarkedua pendukung kesebelasan merembet keluar lapangan dengan memakai pentungan dan senjata tajam.

Di Yogyakarta, kota yang terkenal dengan sopan santun budaya Jawa, konflik antara Brajamusti, pendukung setia PSIM Jogjakarta, dan Slemania, pendukung PSS Sleman juga tidak bisa dilupakan. Saat PSS belum memiliki stadion yang representatif di bilangan Maguwoharjo, Slemania terpaksa melintasi wilayah Kota Yogyakarta untuk mendukung PSS bertanding di Stadion Mandala Krida. Akibatnya sungguh fatal, provokasi Brajamusti di wilayah Brajamusti garis keras seperti di Gayam yang notabene merupakan salah satu akses utama ke stadion acapkali menimbulkan bentrokan fisik diantara warga Ngayogyakarta Hadiningrat ini.

Konflik ini kemudian diwariskan oleh Brajamusti kepada Paserbumi, pendukung Persiba Bantul, yang sebelumnya lebih mendukung PSIM daripada PSS. Bentrokan antara Slemania dan Paserbumi pecah tatkala kedua tim bertemu di Coppa Indonesia 2006 di Stadion Pacar, Bantul tatkala PSS bertamu ke Persiba.

Dengan memakai pendekatan Louis Althusser yang memandang ideologi sebagai sesuatu yang terdiri atas relasi imajiner (imaginary relationship) dan keberadaan material (material existence) sebagai perwujudan nyata sebuah ideologi, agaknya sepak bola telah menjadi sebuah ideologi resistensi orang daerah yang selama ini selalu dianggap nomor dua oleh pusat dan publik secara lebih luas (Payne, 1996 : 225). Ada relasi imajiner yang selalu menjiwai kesebelasan yang berada di daerah untuk tampil lebih fight saat berhadapan dengan kesebelasan yang berasal dari pusat. Ada juga pertandingan keras antarkedua kesebelasan yang acapkali diikuti bentrokan-bentrokan antarpemain di lapangan hijau dan suporter, yang berlangsung bukan hanya di tribun penonton namun juga di luar stadion yang menjadi bentuk nyata dari ideologi resistensi kultural daerah terhadap pusat melalui sepak bola.

”Etnosentrisme” dalam Perang Simbol
Suporter sepakbola pada umumnya berusaha menampilkan simbol kedaerahan mereka masing-masing. Sebagai sebuah keragaman budaya hal ini tentu wajar-wajar saja, namun yang menjadi menggelisahkan adalah simbol-simbol yang digunakan kerap diwarnai etnosentrisme (Lewis dan Slade, 1994 : 131). Pendukung Barcelona misalnya, selalu mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Catalan yang lebih superior. Identifikasi inilah yang kemudian membawa semangat etnosentrisme. Bagi pendukung Real Madrid, merekalah yang layak mengklaim dirinya sebagai nomor satu, karena bagaimanapun juga secara prestasi lebih monumental dibandingkan dengan Barcelona. Namun, pendukung Barcelona dapat berkilah bahwa prestasi Real Madrid tidak lepas dari “pilih kasih” pemerintahan pusat, terutama di masa Jendral Franco yang terkenal sebagai pendukung berat Real Madrid. Jendral inilah yang mengobarkan perang saudara di Spanyol di tahun 1930-an. Perang ini banyak memakan korban orang-orang Catalan sebagai akibat kebijakan Jendral Franco.

Partai Lazio dan Livorno di Seri A Italia adalah partai yang kerap diwarnai etnosentrisme Italia Utara yang lebih makmur dan Italia Selatan yang lebih miskin. Perseteruan yang kemudian merembet dengan melibatkan ideologi politik yang berseberangan, yaitu antara fasisme yang banyak dilekatkan dengan pendukung Lazio dan sosialisme-komunis yang banyak dilekatkan kepada pendukung Livorno. Tidak aneh jika kedua kesebelasan bertemu, ancaman bentrok antar tifosi (suporter) lebih besar kemungkinannya daripada jika mereka bertemu dengan kesebelasan lain.

Etnosentrisme ini juga mewabah di Ligina yang notabene diselenggarakan di negara yang jauh lebih multikultur dibandingan dengan Spanyol ataupun Italia. The Jak, nama lain suporter Persija selain Jakmania, selalu membawa spanduk besar bergambar Benyamin dengan baret ala Che Guevara saat mendukung Persija bertanding di Stadion Lebak Bulus, Jakarta. The Lassak (Laskar Sakera), pendukung Persekabpas Pasuruan juga tidak mau kalah dengan menampilkan spanduk bergambar Sakera yang mengidentifikasi mereka sebagai orang Madura, walaupun Pasuruan sebenarnya secara geografis berada di Pulau Jawa namun kebanyakan penduduknya adalah pendatang dari Pulau Madura.

Tokoh dalam legenda lokal seperti Sakera memang kerap dipakai untuk menunjukan eksistensi subkultur daerah sebuah klub sepakbola di Indonesia. Persitara Jakarta Utara berusaha menunjukan eksistensi mereka sebagai keterwakilan budaya Betawi mengalahkan Persija, setidaknya mengalahkan Persija dalam klaim sebagai wakil subkultur Betawi, dengan menyebut diri mereka sebagai Laskar Si Pitung, sosok legendaris kaum Betawi yang berani mengangkat senjata melawan pemerintahan kolonial Belanda.

Persijap Jepara juga tidak mau ketinggalan dengan menyebut diri mereka sebagai Laskar Kalinyamat. Kata “Kalinyamat” mengingatkan pada sosok Ratu Kalinyamat seorang legenda lokal yang ditindas oleh rezim Sultan Trenggana pada masa peralihan Demak ke Pajang di masa awal kerajaan Islam di tanah Jawa. Jika demikian, bisa jadi jika dulu Ratu Kalinyamat berontak pada pusat yang bernama Demak, maka sekarang suporter Persijap saat ini mempersonifikasikan pusat sebagai PSIS. Tak heran pula jika terjadi kerusuhan saat kedua klub tersebut bertemu di lapangan hijau. Yang kemudian menjadi kian mengkhawatirkan adalah legenda-legenda lokal di atas digunakan sebagai simbol etnosentrisme yang mesuperiorkan budaya sendiri dan menganggap subkultur lain sebagai yang lain (the other) yang lebih inferior (Lewis dan Slade, 1994 : 131).

Pemakaian bahasa dan idiom lokal juga mewarnai atmosfer pertandingan Ligina. Aremania, suporter Arema, mengidentifikasi diri mereka sebagai “Kera Ngalam” yang berarti Arek Malang. Pembalikan huruf dalam sebuah kata yang oleh Saussure disebut sebagai anagram menjadi bentuk representasi lokalitas subkultur Malang yang bisa jadi adalah usaha orang Malang untuk berbeda dengan Surabaya yang menjadi pusat kekuasaan di Jawa Timur.
Nama Arema juga merujuk pada sebuah legenda kebanggaan Malang. Kidung Harsawijaya pertama kali mencatat nama tersebut tentang kisah Patih Kebo Arema di saat pemerintahan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari, yang menjadi penyokong utama politik ekspansionis dari Raja Kertanegara (Henry, 2007:97).

Binatang adalah simbol-simbol kultural yang juga sering digunakan untuk menunjukan eksistensi subkultur tertentu. Persebaya, dengan penuh kebanggaan menggunakan simbol ikan dan buaya. Simbolisasi ini tidak lepas dari legenda kelahiran kota Surabaya yang konon terjadi karena pertarungan antara Sura (ikan) dan Boyo (buaya).

Klub yang didirikan oleh Paijo dan M. Pamoedji pada tanggal 18 Juni 1927 dengan nama awal Soerabaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Penggunaan kata Indonesische ini menunjukan semangat nasionalisme dari arek-arek Surabaya, bahkan setahun sebelum sumpah pemuda dikumandangkan. Semangat nasionalisme ini kemudian semakin nyata ketika SIVB menjadi salah satu pendiri PSSI pada 19 April 1930 (Henry, 2007:98). Sayangnya semangat nasionalime ini kemudian berganti menjadi baju menjadi chaos, terutama andil para bonek yang menjadi pendukung garis keras Persebaya. Istilah bonek berasal dari Bahasa Jawa yang berarti modal nekat. Salah satu kekacauan yang disebabkan oleh bonek adalah partai perempat final Coppa Indonesia 2006 di Stadion Tambaksari Surabaya. Persebaya yang kalah pada gim pertama dituntut menang pada gim kedua. Tapi skor masih tetap 0-0, dan para bonek mulai berulah. Mereka menghancurkan dan membakar perangkat stadion, dan di luar stadion mobil Telkom, Anteve, TNI AL dan beberapa yang lain menjadi arang (Henry, 2007:99).

Tidak mau kalah dengan Persebaya, Arema yang selama ini menjadi rival Persebaya untuk menjadi nomor satu – setidaknya di Jawa Timur – memakai Singa sebagai logo mereka. Logo Singa yang digunakan oleh Arema tidak lepas dengan pendirian klub ini pada bulan Agustus yang dalam astrologi berarti Leo dan berlambang singa. Awalnya pamor Arema kalah mengkilap disbanding saudara tuanya, Persema Malang, namun kesuksesan Arema menjuarai Galatama pada edisi tahun 1992 merubah angin dukungan kepada Arema, dan lambat laun prestasi Persema yang menyurut berbanding lurus dengan semakin kecilnya dukungan yang mereka dapatkan dari para suporter di Malang.

Dilihat dari usia, Persebaya jauh lebih tua dari Arema karena klub ini telah berdiri sejak masa kolonialisme Belanda, sedangkan Arema baru berdiri tanggal 11 Agustus 1987. Namun jika kita melihat pada cerita fabel, pastilah raja hutan selalu dilekatkan pada singa bukan pada buaya atau ikan. Dari sini terlihat bahwa Arema secara tidak langsung melakukan klaim bahwa merekalah yang menjadi raja persepakbolaan, setidaknya di Jawa Timur, bukan Persebaya yang jauh lebih tua dan notabene berada di pusat kekuasaan propinsi di bagian timur Pulau Jawa ini.
Yang semakin membuat konflik ini mengeras adalah kemunculan koalisi antarkelompok suporter. Perang simbol melalui media internet mengawali konflik yang semakin terbuka dan meluas.

Akhir kata, sepakbola yang telah menjadi sebuah industri budaya, ternyata memendam bara konflik multikultur yang telah mulai mematik konflik di antara pemain dan tentu yang paling sering adalah suporter. Konflik yang terjadi di berbagai liga sepakbola di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia yang berbhineka tunggal ika ini. Lebih mengerikan lagi adalah adanya koalisi antarkelompok suporter yang menjadikan area konflik akan semakin meluas dan perseteruan juga bakal semakin mengganas.


Sumber : fajarjun.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, memberi saran atau masukkan tentang posting ini.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP